I was a student of STIKOM The London School of Public Relations Jakarta, bachelor's degree in Mass Communications Major, looking an job on your company. I have enclosed my resume for your review. I would like to apply in productions department. But if there is another related business job opportunity that would fit me, I would take it.

Tampilkan postingan dengan label media relations. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label media relations. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 April 2009

news of paten

PATEN DENGAN KEPEDULIAN

Jkt 27/10 – apakah anda peduli Indonesia? Pasti semua mengaku peduli kepada kebudayaan kita. Kadang kita semua terlihat menyepelekan kebudayaan kita, hingga tak menyadari sebagian besar budaya kita telah diakui oleh bangsa lain.
Ingat ketika Reog Ponorogo dan lagu rasa sayange yang berhasil di patenkan Malaysia? atau Batik yang juga telah diakui oleh Negara tetangga kita Singapura? Ya, sangatlah disesalkan oleh berbagai kalangan. Namun kalau ditelusuri mendalam, kita sendiri yang menerima warisan budaya itu, cenderung melupakan dan memusuhinya.
Tengoklah kebelakang, kita sangat marah ketika mereka satu per satu mengakui hasil cipta rasa dan karsa Indonesia. Kita warganya, hanya dapat menuntut pihak yang berewenang untuk protes, dan segera mematenkan budaya lain tanpa melakukan antisipasi dari pribadi masing masing.
Indonesia kaya dengan budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Sesungguhnya, ini adalah aset terbesar dari bangsa ini untuk tumbuh dan berkembang, namun generasi pewaris, malah sibuk dengan budaya barat yang diangap sebagai tongak modernisasi di Indonesia.
Sudah sepantasnya sebagai pewaris budaya nenek moyang, kita segera peduli terhadap pencurian budaya belakangan ini. Pagelaran seni dan budaya sudah sering diadakan oleh pihak yang berwenang untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya sendiri. Hal ini harus didukung dengan keikutsertaan kita di dalamnya.
Dengan kepedulian generasi muda untuk peduli dan melestarikan musik & tarian tradisional, karya seni, serta kuliner yang dihasilkan warga Indnesia, kami yakin hak paten akan didapatkan dengan sendirinya dan terjamin dari ancaman pencurian oleh bangsa lain.

feature berita

KULINER KITA YANG MALANG
Oleh: Theresia Indriyani

Hampir semua orang Indonesia mengenal tempe dan tahu. Orang-orang desa atau orang-orang kota biasa memakan tempe dan tahu sebagai lauk-pauk. Juga bisa menjadi kudapan atau camilan. Gorengan tempe-tahu biasa dijajakan di pinggir pinggir jalan. Tempe-tahu sudah menjadi khas makanan Indonesia, sudah turun-temurun, dan asli Indonesia. Sedihnya, meski banyak diproduksi dan dimakan orang Indonesia, tapi tempe-tahu sekarang bukanlah hak milik Indonesia lagi.
Kabarnya, hak paten tahu telah dimiliki Thailand dan tempe menjadi milik Jepang. Bukan hanya tahu dan tempe yang luput dari genggaman Indonesia, rendang padang dan soto betawi juga telah diakui Malaysia, bahkan sate terasi milik Singapura. Jika ini benar adanya, maka orang Indonesia klak tak bisa lagi sesukanya menyebut dan menjual SOTO-BETAWI karena betawi hanya pernah ada di Indonesia.
Kuliner telah mudahnya dimiliki bangsa lain, tapi kini Batik juga telah diakui Malaysia. Maka diperkirakan, orang Indonesia akan membayar pajak atas kekayaan alamnya sendiri. Pemerintah telah bersitegang memperjuangkan hak hak tersebut, disisi lain orang Indonesia malah tergila gila dengan kuliner import. Seperti Sushi, burger, pizza dan lainya. Bahkan kedelai untuk bahan dasar tahu dan tempe juga harus didatangkan dari luar negeri.
Kita memang cenderung kurang menghargai produk dalam negeri, maka sudah seharusnya, kita sebagai bangsa yang mencintai sejarah, dan menghargai warisan nenek moyang harus berjaga agar pecel Lele, gudeg, rujak cingur, nasi uduk, lontong balap, coto makasar dan lainnya menjadi hak paten negara lain.